Tulisan ini saya buat dalam kondisi marah…dan meskipun kemarahan saya sudah sempat mereda semalam, rasanya belumlah benar-benar akan hilang ketika saya belum mengungkapkannya pada tulisan ini…
Kemarahan saya ini akibat pertengkaran saya semalam dengan rekan kost saya…dan dalam tulisan ini saya tampilkan profilnya dengan sangat lengkap, versi saya..;p
Namanya ERLINA YEVIANI..temen2 kost memanggilnya Evi, seorang perempuan asal Purwokerto berusia (kalo tidak salah 31 tahun, dengan perhitungan 2 tahun atau 3 tahun yang lalu pas kami masih sering bertukar sapa, dia sempat curhat bahwa usianya sudah 28 tahun dan kegundahannya tidak segera menikah ;p ).
Berkulit putih bersih, tinggi semampai, berambut pendek sebahu, berkacamata, dan …mmmm…cukup montok..hahahahahaha…
Sampai sekarang saya sering bertanya –tanya tentang sesuatu yang aneh pada postur tubuhnya…yaitu patahan antara pinggang dan pantat atasnya terlihat sangat kentara, atau kalo orang jawa menyebut, dengkeannya itu kentara sekali, sehingga pinggangnya seolah melesak masuk dan seolah disodorkan dengan tiba-tiba, undakan bentuk pantatnya muncul :D..saya bingung mengambarkannya…, tapi bisa jadi untuk beberapa laki-aki ini terlihat cukup sexy kok..hahahahahaha
Jika dilihat di keramaian, dia tidak terlihat cukup menarik perhatian..yaahh..karena cara berbusana dan tampilannya umum dan banyak ditemui dalam tata busana perempuan yang bekerja di Bank. Mungkin, jika di matke 9diamat2i) lebih lanjut, jika ada mengenalnya pertama kali, kesan pertama adalah bersih..huehehehe..ditambah matanya yang sayu dan redup yang sering dikedip-kedipkan, menambah kesan meneduhkan..hahahahahahaha
Dia lulusan universitas Jend. Sudirman, Purwokerto dari Fakultas Pertanian, angkatannya..maaf saya lupa..yaa..bisa kan dihitung sendiri untuk usia 31 tahun kira0kira angkatan berapa. Mengawali karir perbankannya di Bank BCA outsource sebagai teller dan kemudian ikut MDPnya Bank Mega…setelah keluh kesah yang kurang lebih 3 tahun harus bertahan di Bank selulus MDP Bank Mega, atau jika keluar maka harus membayar beban penalty, semester ketiga tahun ini berpindah karir di Bank NISP, entah sebagai apa..saya menduga juiga tidak jauh dari Marketing Officer.
Dulu, sempat mengenalkan seorang pria ke kami, adik dan rekan kostnya sebagai ‘cowok yang masih PDKT’ namanya yoga (kakak dari rekan kerjanya yang oba di comblangi oleh rekan kerjanya), dan entah kenapa, si Mas Yoga ini akhirnya menikah dengan salah satu dari kami yang dikenalkan olehnya..sekarang Mas Yoga sudah berputri 1 dari Rekan Kost saya dan sangat bahagia dengan rumah tangganya. Meskipun sebelum pernikahan Mas Yoga dengan Rekan Kost kami ini, mempelai perempuan mengalami berbagai kasus ‘pembalasan sakit hati karena cowok yang PDKT lebih suka sama adik kostnya’ oleh si Evi ini, dari yang tidak pernah disapa, sampai dipersulit tentang interaksi sekecil apapun dengan tetangga kostnya.
Kemudian, setelah insiden Mas Yoga, Si Evi ini mengenalkan kami ke seorang laki-laki lagi yang diakuinya sebagai cowoknya..bukan mengenalkan tepatnya, kami (yang lebih muda dari dia) mendengar tentang cowok yang beberapa kali bertandang ke kamar kostnya itu sebagai cowoknya, karena mungkin dia punya trauma mengenalkan laki-laki ke adik kostnya lagi :D, tapi hubungan dengan laki-laki itu sepertinya tidak cukup mulus, karena sang laki-laki sekarang tidak pernah kelihatan batang hidungnya di kost2an…dan seringkali pula rekan kost yang lain bercerita kalo si Evi ini sangat patah hati dan sering menangis..
Rasanya agak tragis ya kisahnya, setidaknya dibanding rekan kost saya yang lain, yang sudah mendahuluinya menikah, istilahnya..ada cowok yang PDKT, disuka, Pacaran dan kemudian menikah..yang menurut persepsi saya, si cowoknya pasti yakin dong dengan semua kapasitas, kapabilitas, dan kepribadian rekan kost saya sehingga yakin untuk menikahinya..tidak kabur teruuuss…:D
Dulu, saya tidak pernah bermasalah secara personal sama dia, karena prinsip saya..saya orang yang tidak mau tahu urusan orang lain, tapi ketika orang mau tahu urusan saya, berarti dia cari masalah dengan saya..
Beberapa rekan kost saya sering curhat, jika mereka bermasalah dengan si evi ini, pertama rekan kost saya yg namanya Rina Hudaya(sudah menikah dan berputra 1), yang mengeluhkan sikap evi yang sangat protektif terhadap barang-barang miliknya yang digunakan bersama-sama..yaitu ember.
Evi awalnya kost berdua dengan kakaknya dalam 1 kamar, kemudian setelah ada 1 org dari kami menikah, dia menyewa kamar sendirian. Nah, selayaknya penghuni kost2an yang sudah lama (seperti saya yang sudah jadi anak kost 11 tahun), kami sangat terbiasa saling meminjam barang perabotan yang harganya juga tidak sampai harus puasa 1 hari untuk membelinya, seperti ember, piring, kompor, sendok, beras, telur, mie instant, sapu, hanger, wajan, dll. Kami menganggap namanya hidup di kost, apa susahnya sih saling berbagi, apalagi sekedar pinjam meminjam perabotan, asal bukan underwear saja. Hahahahaha
Nah, pada saat Rina menggunakan ember yang setahu Rina adalah milik mereka berdua (Evi dan kakaknya) dengan meminta ijin kepada kakaknya-dan juga sudah diijinkan, untuk menampung air untuk mengepel, Evi teriak dan bilang..” Kok kamu gak minta ijin sama aku juga sih, itu kan juga emberku!!!” Wuikkkk…
Terus, dia menerapkan peraturan, siapapun yang masuk ke kamarnya, harus menggosok kakinya di kain pel yang dibasahi sampai benar-benar bersih..kayak dia nggak percaya aja ya kalo rekan kostnya juga orang yang bersih-bersih..
Lagi, dia menerapkan peraturan (bukan meminta tolong atau mengingatkan rekannya) untuk semua yang melewati pintu utama kost harus menguncinya, tidak hanya menutup pintunya, meskipun kami hanya sekedar mengambil cucian kering yang jarak dari pintu utama hanya sekitar 2 meteran. Dan kami semua, penghuni kost2an adalah manusia-manusia yang terdidik dan saya jamin semua bisa membaca tulisan dengan sangat jelas.
Daan, seandainya ada rekan kost yang semodel saya, yang menganggap bahwa amatlah tidak penting menjadi seorang yang paranoid dengan selalu memenjarakan diri dengan mengunci pintu, pasti akan timbul masalah, yang sayangnya, meskipun terkadang saya pancing, tidak pernah berakhir dengan omelan dia, tapi begitu teman saya yang lain yang tidak siap ’bertukar wacana dengan tone tinggi’ yang melakukannya, dia beraksi..hehehe
Saya memang tidak pernah punya masalah dengan si Evi ini, tapi saya sangat terganggu dengan aturan-aturan yang seenaknya dia terapkan seolah dirinya Ibu kost, sementara pemilik kost sesungguhnya merupakan orang-orang lowprofile yang sudah sangat melek matanya bahwa kami semua adalah perempuan-perempuan dewasa yang sudah bisa bertanggung jawab dengan ’milik’ kami masing-masing..fyiuuhhh..melelahkan..
Saya termasuk satu-satunya yang mengambil posisi berhadap-hadapan, karena saya tidak suka pola otoritas dia yang seolah menguasai kost dan membuat beberapa dari kami kesal tanpa bisa memprotes..
Dan posisi berhadap-hadapan yang saya ambil ini sering mengkhawatirkan penghuni kost yang lain, karena saya juga tipe orang yang blak-blakan dan siap setiap saat untuk beradu wacana dengan evi..ya elah…evi doang..hahahahaha
Masalah pertama Evi dengan saya personal dimulai sekitar 1 tahun yang lalu, kisahnya bermula dari insiden pencurian gaji 1 bulan rekan kost saya oleh cowok yang masih PDKT sama dia. Dengan dalih menyuruh rekan saya mandi dulu sebelum berangkat ke kampung halaman untuk acara perkenalan calon menantu, dia menggondol tas back pack saya yang dipinjam untuk packing baju dan gaji rekan saya 1 bulan..tragis..
Konsekuensi tersebut sudah diterima dengan sangat sadar dan lapang dada oleh rekan saya ini, tapi imbas dari insiden itu adalah evi, murni, kakaknya, secara sepihak dan tanpa didiskusikan dengan rekannya satu kost, menghadap pemilik kost dan meminta pemilik kost memasang peringatan agar seluruh penghuni kost dilarang membawa tamu laki-laki ke kamarnya, siapapun..dengan anggapan bahwa tamu laki-laki akan berkemungkinan besar mengulangi insiden penggondolan gaji seperti kmrn.
Saya yang paling meradang dalam merespon peraturan yang dibuat sepihak itu, ketidakterimaan saya ajukan ke pemilik kost, dengan alasan bahwa kenapa hanya tamu laki-laki, bahaya kan tidak mengenal gender, perempuan jika punya maksud buruk juga bisa saja, dan keberatan yang saya ungkapkan dengan sangat keras ke bapak kost adalah karena sebagian rekan saya yang berkunjung adalah laki-laki, keluarga, sahabat, dan lingkup pergaulan saya sebagian besar diisi oleh makhluk Mars tersebut.
Ya, tentu saja saya keberatan, lay out kost kami sangat tidak memungkinkan untuk menerima tamu di luar kamar, jarak pintu kamar saya dengan pintu kamar depan saya hanyalah 1 meter, yang menjadi lebih sempit dengan tambahan rak sepatu saya dan rak sepatu rekan depan kamar saya, sementara tidak ada ruang tamu di kost saya, hanya 1 kursi yang memuat 2 orang dan meja kecil disamping kuris tersebut.
Tentu saja, si evi mengajukan alasan itu, karena kursi tersebut terletak di depan kamarnya, dekat pintu masuk, untuk mengambil minum, menonton TV dr kursi terebut sangat memungkinkan, sementara kamar lain..tidak dia pertimbangkan.
Akhirnya dengan negosiasi dan kecaman keras kepada pemilik kost, kami mendapatkan kelonggaran bahwa diperbolehkan menerima tamu laki-laki di kost, jika pintu dan jendela di buka dan jika ada keperluan yang penting yang mengharuskan berakses ke kamar, seperti sholat, menggunakan komputer, dll.
Sampailah suatu hari, dimana saya menerima salah satu tamu laki-laki, yang sudah seperti kakak saya sendiri, sahabat saya terdekat, terbaik..dia membantu saya mempersiapkan presentasi terpenting sepanjang karir saya, dengan browsing-browsing bahan di warnet dan kemudian di save di flasdisknya.
Mau tidak mau, saya harus replace dari falshdisknya ke laptop saya, yang mau nggak mau juga saya harus menyalakan laptop dan itu di kamar saya.
Saat saya masuk ke kost, dan sahabat saya tertinggal di belakang, saya tidak tahu tepatnya yang dikomunikasikan si evi ini ke sahabat saya, tapi saya dengar mereka bercakap. Dan ketika sahabat saya sampai di kamar, kami sedang berkutat dengan laltop dan data, si evi dengan semangat membabi buta mendatangi kamar saya dengan mimik muka yang menahan marah yang teramat sangat seolah haknya dilanggar, langsung menuding sahabat saya dan bilang …..
”Mas, Bisa baca kan tulisan di depan itu, laki-laki tidak boleh masuk kamar”
Sahabat saya menanggapi dengan tenang
”Saya kan bilang sebentar mbak, saya pindahkan data di flashdisk saya ke laptop nelly dulu”
Saya yang meradang..saya balik tunjuk evi dengan keras saya bilang..
”heh..gw udh bilang sama bapak kost, diperbolehkan menerima tamu laki-laki di kamar asal pintu dan jendela di buka”
Sejak saat itu, dimulailah posisi berhadap-hadapan yang sesungguhnya antara dia dengan saya…hanya karena menghormati rekan kost saja, saya selalu menahan untuk melaukan tindakan premanisme ke dia..lagian..selisih usia 5 tahun seolah justru saya yang harus selalu memposisikan sebagai sosok yang lebih dewasa dan harus selalu menahan diri.
Sampai kejadian semalam yang membuat saya sangat marah..hanya karena sebuah piring dan sendok.
Sebagaimana seperti tergambarkan sebelumnya, kami, sesama anak kost sangat toleran terhadap pola pinjam meminjam perabotan kami, pun saya, yang sangat membebaskan adik kost ataupun rekan kost untuk ikut meminjam peralatan perabotan saya, termasuk, piring, gelas, sendok dan sejenisnya…
Saat natal kemarin, setelah masak nasi goreng, karena saya punya piring warna merah yang diberikan oleh tukang pel di kost kami karena dia pecahkan piring saya sebelumnya, saya melihat itu di rak piring dekat kamar mandi, dimana biasanya adik kost saya manruh barang yang selesai dipinjam setalh di cuci.
Karena saya tidak pernah ’notice’ piringnya seperti apa dan hampir semua piring terlihat sama dan mirip, saya ambil salah satu yang menurut saya, terlihat seperti piring saya, dengan asumsi, seandainyapun saya salah, setidaknya saya pinjam piring tersebut untuk makan. Dan sendok juga saya ambil sembarang yang ada disitu.
Tiba-tiba saat malam saya sedang berkutat dengan diktat dan buku-buku yang cukup menyebalkan, pintu kamar saya di gedor..saya kira adik kost saya yang biasanya punya pola serupa dan dia sudah saya anggap sebagai adik saya sendiri. Setelah saya teriakin yaa…tiba-tiba pintu kamar saya di buka paksa (di gebrak) sambil dia menembakkan serentetan kata tidak ikhlas seolah saya baru mengambil calon suaminya…
” heh, nelly..besok2 jangan lagi kamu pake piring saya ya..ini piring dan sendok saya, jangan suka pake barang orang lain seenaknya”
Saya takjub, shock dan geli….shock karena ternyata yang datang ke kamar saya adalah seorang ’evil’ dan bukan evi…kedua takjub, sedemikian parno dan protektifnya dia terhadap sebuah piring dan sendok yang saya bisa belikan 10 lusin lebih pada saat itu juga, sekaligus geli dan heran..kok ada manusia yang berpikir secupet ini..sarjana pula, karyawan bank NISP pula..hahahahahahaha….
Saya lawan kebali kata-kata dia..”eh enak aja, itu piring gw, yang dicucu sama tiwuk ditaroh disitu..yang jelas dong loe….”
Dia jawab ” ini piring ku, tak taruh disini, udah dicuci 3 kali hari ini (mana saya tahu ;p)”
Genap sudah batas kesabaran saya menghadapi dia…sama seperti keluhan satu rekan kost yang pernah dipinjami uang untuk bertahan hidup, dengan hanya 300ribu rupiah dan statusnya dipinjami. Ketika rekan saya ini ’terlihat’ lebih akrab dengan penghuni yang lain dan terlihat sedikit jauh dengan dia..dia tidak terima dan ’ bahasa’ yang dia ucapkan saat itu adalah ” ……..(bla..bla..bla)…padahal dulu pas kamu susah kan kamu juga aku bantu, kok sekarang kamu malah gitu siihh!!”..oh My GOD…..300rb, meminjamkan, dan dengan sangat entengnya dia beberkan seolah jasa yang dia berikan adalah menyelamatkan jutaan nyawa kelaparan…hahahahahahaahha
Bisa jadi tulisan ini adalah bentuk kekesalan saya terhadap seorang ERLINA YEVIANI alias Evi…dan bisa pula ini adalah sebuah bentuk propaganda kepada setiap pihak yang terhubung dengan evi untuk lebih menjelaskan bahwa paket lengkap seorang ERLINA YEVIANI adalah sebagaimana adanya..dimana saya, sebagai orang yang hidup berdampingan sehari-hari sebagai rekan kostnya, merasa sangat terganggu dengan pola pikir dan perilaku dia yang seperti anak TK.
Saya berdo’a dengan sepenuh hati saya, mudah-mudahan SECEPATNYA, ada laki-laki yang mau dan bersedia menikahi dia dalam bentuk satu paket tadi…menerima fisik dan jiwanya sepenuh hati..dan tutup mata terhadap hal-hal yang mungkin telah membuat sekian laki-laki berlari menjauh darinya serta lebih memilih perempuan lain..
Sungguh evi, aku berdo’a untukmu..meskipun sebenarnya setaip sel dalam tubuhku ingin berteriak ribuan makian untukmu, tapi aku berdo’a dari tengah lubuk hatiku untuk kedekatan jodohmu segera, sehingga kau bisa menerapkan pola hidup dan pikiranmu ke Rumahmu sendiri, bukan kost2an yang semua penghuninya punya hak dan kewajiban yang sama karena bayarnya juga sama ;p…
Kenapa dari tengah hati..karena jauh di lubuk hati yang paling dalam, aku ikut prihatin dengan siapapun yang berjodoh denganmu, bahwa dia laki-laki yang ’tidak terlalu jeli dan pintar untuk menjadikanmu partner hidup yang akan mengurungnya di dalam neraka…hehehehehehe….PISS…piringnya dijaga baik-baik ya..jangan sampe pecah..hahahahahaha
Tulisan ini saya buat dari hasil perbincangan atau istilah kerennya diskusi ringan pas makan siang dengan tetangga kubikel saya tersayang, Mbak Nefti J
Berawal dari cerita ngalor-ngidul tentang sahabat-sahabat kami masing-masing, sampai kepada bahasan tentang gaya hidup dari sahabat-sahabat kami yang berubah drastis setelah sekian lama menginjakkan kaki di Ibukota ini.
Hampir 70% sahabat lama yang saya temui kembali disini, kecenderungan gaya hidupnya berubah, dan lagi, dengan berjejalnya fasilitas konsumerisme yang menjamur di Ibukota, rata-rata dari semuanya berpikir bahwa parameter kesuksesan mereka adalah Materi..
Menurut teman gossip saya dikantor ini..hehehehe…bisa jadi karena keterbatasan lingkungan bergaul sahabat-sahabat saya dan dia yang seprti itu, menjadikan mereka seperti katak dalam tempurung, yang membuat mata mereka terbuka hanya sebatas dunia tempurung dia atau perubahan tersebut karena lingkungannya menjadikannya sosok yang masih mencari eksisitensi dirinya dengan berapa banyak materi atau jam terbang yang dia punya…
Ada benarnya juga, dana kami berdua selalu menyebut mereka-meraka ini dengan julukan OKB, alias Orang Kaya Baru atau Orang Keren Baru…hahahahaha
Si Orang Kaya Baru atau Orang Keren Baru ini, setelah dihitung-hitung, dan diamati berjumlah relative banyak lho disekitar lingkungan saya…ada yang terang-terangan bercerita tentang apa yang dia punya sekarang, bagaimana portfolio dia sekarang sampai dengan kemana saja aktivitasnya saat ini….kadang saya suka geleng-geleng kepala sendiri jika mengingat mereka satu persatu..
Contoh pertama adalah salah seorang rekan, yang setahu saya sih dia berasal dari keluarga yang cukup berada (menurut cerita dia), Ibunya berpengaruh (salah satu CEO perusahaan besar) pun dengan seluruh adiknya..yg masing-masing punya portfolio yang jika saya katakana disini, akan sangat membuat mata terbelalak..:)
Setelah masuk ke lingkungan kerja yang gaji sekarang sekian kali lipat dari gaji terdahulu..(gaji sekarang hampir menyetuh angka 40 juta perbulan), saya melihat dia setiap hari dengan hal yang berbeda…
Hari ini bawa accer notebook yang mungil, besoknya bawa mac box yang katanya harganya 11 jutaan…max boxnya dijual -10% dr harga beli, dan esok harinya beli yang sama dengan type sama dengan harga yg sepertinya juga sama…
Esok harinya ‘menunjukkan’ kepada kami semua, sepatunya yang baru..yang jika kita Tanya jawabnya dengan sedikit ‘merendah’..”aaahhh..murah kok, 400rb dapet dua”…
Esoknya, bilang, baru ganti jam tangan..beli di Amerika katanya..harganya..yaaahhh..gak sampai 5 juta kok…
Sampai saat external harddisknya rusak, dan ternyata dia baru tahu bahwa saya punya type yang sama dan serupa..seolah dia tidak percaya..”bagaimana mungkin loe punya”..hehehehe..ini feeling aja sih, mengatikan tatapan matanya ke saya..hahahaha
Contoh Kedua..ini temennya temen saya…dan ini salah satu dari dua contoh yang akan saya berikan untuk pola OKB yang implisit..
Menurut temen saya, setiap kali sahabatnya ini diajak ketemuan, awalnya ok, terus kemudian dia cancel mendadak, dan tanpa ditanya jawabannya adalah : “addduuuhhh bow, sorry bgt yak, gw gak bisa dateng sekarang…gw masih di kedutaan nih, ngurus visa sekolah gw di amrik, gw kan mau berangkat bentar lagi…next time aja yaaa….(“tanpa ditanya”)
Contoh Ketiga adalah sahabat perempuan saya, yang dulu saya kenal bukanlah orang yang seperti itu, sama sekali bukan..dan sekarang dia berubah menjadi seperti itu entah karena apa..
Dia putri seorang yang berada (ini setahu saya, bukan hanya dari cerita dia), dank arena orang tuanya cukup berada, memang dia bekerja hanya untuk dirinya sendiri..yang artinya uang gaji untuk diri sendiri…
Dulu, saat kami masih sama-sama dibangku kuliah, saat itu ponsel belumlah setenar sekarang..karena masih merupakan barang yang mewah dan mahal, apalagi untuk orang setingkat saya, yang uang saku perbulan plus kost sekitar Rp. 300.000,- (tahun 1999 – 2004)
Dia merupakan sosok yang dikomunitas kami pertama kali punya ponsel, dan bagus..saya lupa type berapa…yg pasti Nokia..- sekali lagi yang jika dibandingkan dengan saya yang ponsel pertama adalah hasil pinjaman dari seorang sahabat yg punya 2 ponsel, karena saya ketua panitia sebuah event besar- merupakan benda yang sangat keren..dimata saya, pada saat itu..
Saat kami memuji bercampur kagum dan mungkin lebih banyak iri
dia hanya menjawab..apaan sih, orang ini dibeliin Ibu aku, aku aja awalnya gak mau, karena belum terlalu perlu..tapi dibeliin, kan yo nggak enak tho kalo ditolak..kata ibu aku biar mudah di kontak kalo lagi nggak di kost..saya ingat betul bahasa dia pada saat itu..lebih kagum dunks…J
Dan seribu satu kenangan lain yang saya sangat ingat sebagai bentuk ‘humbel’nya seorang perempuan kaya…
Saat ini, sosok yang saya kenal dengan sangat baik waktu itu sudah menghilang..saya masih selalu merenung, kenapa dia menjadi seperti itu, apa karena lingkungannya, pacarnya, atau apa??? Kalo karena keluarganya, saya yakin tidak…dia berubah, hanya setelah di Jakarta.
Tanda pertama yang saya tangkap (bisa jadi memang baru saat itu dia berubah)…adalah saat dia memiliki kendaraan pribadi..
Bahasa yang dia kemukakan setahun lalu adalah saat kita mau bersama-sama berkumpul dengan komunitas tempat kami berkumpul dulu..bahasanya sederhana….”kamu datang sm sapa mbak, apa bareng aku aja..aku jemput ke kostmu.kalo nyetir sendirian kan gak enak”
Ada lagi pola dia yang saya juga sampai sekarang tidak habis pikir…
Kami terbiasa sama-sama online via chatroom, dan biasanya sepanjang tidak ada hal yg urgent..jarang sekali sapa2an..atau bercanda..karena terkadang terlalu sibuk untuk bercanda di ruang maya tersebut..
Satu saat secara tiba-tiba dia message saya dan bilang..”mbak, kapan halal bi halalnya?”
Saya jawab agak lama, setelah menyelesaikan membalas beebrapa email “ ya udah..publishen disik nang milist, tar cekno aku nanggepin ae. (publish di milist dulu aja, nanti biar aku tanggapin)”
Kemudian dia menyahuti lagi…”ok, tp ojok minggu iki yooo…(tapi jangan minggu ini yaaa…), soale aku sek nang Bali…(soalnya aku masih di Bali)”…saya hanya tersenyum dengan bahasa dia…
Saat lain adalah kemarin, sore hari..pas lagi ngantuk-ngantuknya dan suntuk dengan deadline membuat proposal…tiba-tiba dia telpon ke ponsel saya…dan terjadilah pembicaraan sbb :
“Hallo..” (saya)
“Mbak…, aku iki goblok!!, sampeyan ngerti nggak money changer sing buka sampek bengi” (rata-rata money changer buka sampai jam 10 malam setahu saya) (teman saya)
“lah, kenopo?”
“aku ki kudu budhal sesuk, sampe saiki loh aku gurung nuker Dolar”
“ oohh, nang rawamangun onok, lek aku biasane nang kono..nang daerah fotocopyan iku lho, lek gak kelapa gading kan uakeh”
“bukanne biasane oleh teko kantor, aku sih biasane langsung dikei uang saku dalam dolar”
“iyo, sakjane yo ngono, tapi kabeh iki mendadak..dadi gak isok pengajuan cepet..”
“oohh..ngono, nang Mall kelapa gading yo onok kok, cedak ATM center”
“ohh..iyo..yo wes aku tak nang kono ae…”
Saat itu sebenernya saya akan berkomentar, bahwa untuk saat-saat daruratpun, airport dinegara tujuan selalu ada money changer, dan biasanya tempatnya bersebelahan dengan loket pembayaran viskal..tapi sudahlah…kasian dia…
Atau money changer yang berderet puluhan kios di sepanjang area kelapa gading, yang justru ‘seharusnya’ dia lebih tahu, karena dia lebih hapal seluk beluk kelapa gading dibanding saya, yang kebanyakan naek angkot dan bajaj :D..tapi sudahlah…
Terus terang saya sempat terfikir, jangan-jangan karena saya jealous, maka saya jadi berfikir jelek mengenai dia…dan saya coba kemukakan itu ke diri saya sendiri, ke adik kost saya, dan ke mbak nefti… karena saya gundah, saya sedih dengan perubahan dia yang membuat saya kurang nyaman ke dia.
Dan hal itu kembali dirunut dengan bagaimana traumanya saya ke Luar Negeri, karena setelah kembali tiba ditanah air, saya pendarahan dan masuk rumah sakit, akibat kelelahan yang teramat sangat, belum lagi waktu yg teramat singkat untuk menyelesaikan sekian jadwal bertemu, presentasi, meeting, negosiasi, sampai session ramah tamah yang br bisa selesai lewat tengah malam, dimana esok pagi harus terbangun lebih awal untuk mengejar pesawat pertama ke Negara berikutnya…
Ditambah makanan yang sangat tidak bersahabat untuk seorang muslim dan pembenci ikan seperti saya..duuhhh..rasanya Indonesia seratus kali lebih baik dibandingkan negara lainnya…
Kemudian 4 tahun ini, yang hamper setiap weekend, saya selalu nyusul kekasih saya di kota lain (saat dia bertugas) dan hamper di seluruh Indonesia..menghabiskan waktu sepanjang akhir minggu, refresing…rasanya tiap jumat sore saya selalu menjadi pembaca ayat kursi yang rutin saat pesawat take off…
Atau justru kegundahan saya di bulan – bulan ini, karena saya merasa jenuh dengan rutinitas yang mapan seperti sekarang ini…meski saya masih melarat juga, setidaknya pulang pergi menggunakan taske, busway, yang ber AC , makan di resto bagus..menjadi hal yang memuakkan semakin hari..
Sempat saya SMS ke sahabat saya dan bilang tentang kejenuhan dan kegundahan saya…dia suggest coba pulang pergi kantor lewat jalan yang berbeda…dan saya menuruti nasihat itu, dengan pola lain..saya PP lewat jalan yang berbeda dan naik Bus tidak AC alias mayasari bobrok dari blok M…
Saya sendiri kaget dengan efeknya ke saya, yang ternyata saya merasa nyamaaaannn sekali di tengah hiruk pikuk Bus Mayasari, yang menurut sebagian orang merupakan symbol proletarnya Jakarta..suara pengamen yang saling menyahut dengan suara abang kernet, yang juga menyahut dengan suara klakson dan makian abang sopir, rasanya sangat menenangkan saya…
Saya benar-benar membuka jendela bus dengan lebar, dan merasakan hempasa angina besar dari luar ke wajah saya..dan tersenyum…rasanya nyaman sekali….entahlah..bisa jadi saya manusia yang aneh…
Dari seluruh hal yang saya renungkan itu, mungkin lebih tepat saya bahasakan jika saya sedih, melihat perubahan yang terjadi pada sahabat-sahabat saya ini…
Saya sedih terhadap materialisme yang meraja diseluruh negeri ini..pola-pola konsumtif dan berpandangan bahwa materi adalah tujuan seseorang dan parameter kesuksesan di Jakarta..Rasanya Kapitalisme benar2 membuat semua orang menhamba dan mentuhankan Uang dan materi…
Hal tersebut jugalah yang membuat saya harus bertengkar hebat dengan Ibu Kandung saya sendiri, kemarin saat pulang kampung..
Saat kembali beliau menagih saya untuk segera menikah, dan kembali saya tolak dengan alasan belum ada yang cocok..dan saya kembalikan ke beliau dengan sekian contoh sepupu saya yang menikah muda sekarang menderita J
Beliau dengan sangat berapi-api dan keras kepala menyatakan tentang kebingungan dia karena saya tidak juga kunjung bisa menerima beberapa yang mendekat ke saya secara sempurna, padahal secara kemapanan, bisa dibilang tidak perlu diragunakan lagi…
Perih hati saya mendengarnya…bahkan Ibu saya, sekarang bukan lagi 100% sosok sederhana yang tinggal di Kampung terpencil dan hidup apa adanya…beliau punya obsesi besar bahwa akan ada sosok pangeran kaya raya yang akan menyelamatkan hidup kami sekeluarga atau minimal hidup saya….perempuan desa lugu yang saya kenal dulu, sudah terimbas pengaruh sinetron jahat yang terus menerus ditayangkan tiap harinya.
Atau beberapa laki-laki yang dekat dengan saya, ada yang bilang “aku pengen punya mobil alphard, kayaknya kl cowok pake mobil itu, kesannya mapan banget”..yang lainnya bilang “aku nggak suka kartolo (di kenduri cinta TIM), guyonannya gak intelek”, atau yang lainnya lagi bilang..”kemarin aku sama team keliling belanda, dan prancis, study banduing kesana..gak berasa habis smp 20an juta..untung ada simpanan khusus jadi keuanganku tdk terganggu”, atau berikutnya “ aku habis beli rumah di Depok Nell” atau selanjutnya “Gw benerin Rumah ortu habis sekian..sekian” atau yang lain “ gaji aku disini tiap bulan nambah Nell..awal 4 juta, sekarang ditambah tunjangan rumah dll , bulan kemarin 25 jutaan dan dilanjutkan dengan 1 jam cerita tentang gajinya yang berpuluh2 juta tadi”
Saya berharap, tulisan ini terbaca oleh beberapa rekan yang saya sebutkan tadi, atau mungkin oleh ibu saya sendiri..bahwa saya sayang mereka semua, dan saya sedih ketika saya harus menyaksikan satu demi satu rekan dan ibu saya terlena oleh materialisme dan diri sendiri hingga lupa pada kaum papa yang masih merintih kelaparan di seberang jalan sana…
Tadi subuh, saat saya menonton film para pencari tuhan, ada satu scene yang menurut saya dialognya sangat mendalam dan bermakna…scene dimana Bara (tora sudiro) yang memerankan karakter orang berandalan, pelaut, pemabuk, bertato dan tidak pernah mau mendekat kepada penciptanya.. menangis tersedu2… » Continue Reading
Pre Menstrual Syndrome, atau yang lebih dikenal dengan bahasa PMS, adalah adalah kumpulan gejala fisik, psikologis, dan emosi yang terkait dengan siklus menstruasi wanita. PMS memang kumpulan gejala akibat perubahan hormonal yang berhubungan dengan siklus saat ovulasi (pelepasan sel telur dari ovarium) dan haid. » Continue Reading
17 agustus 2008 ini, seperti biasa, saya hanya berusaha memanjakan diri setelah sekian minggu setiap weekend seolah justru semakin mengejar saya dengan sekian banyak pekerjaan, ataupun kegiatan di luar rumah dan sekian janji yang harus saya tepati dengan orang-orang disekeliling saya.
Jadilah long weekend kali ini, saya bulatkan tekad untuk benar-benar menghabiskannya sendirian, di kamar kost 2 x 3 meter saya tercinta ini dan memakan makanan yang saya masak sendiri dari apapun persediaan yang ada di kulkas :D, membaca buku2 yang sudah menuntut untuk dinikmati, menonton TV seharian, membuat cappuccino 1 kali setiap 6 jam, dan tentu saja tidur siang…satu hal yang sudah lama sekali tidak saya lakukan.
Menonton TV di 17 agustus setiap tahun, rata-rata hal rutin yang dilakukan untuk menonton rutinitas yang tidak juga berubah. Upacara bendera, detik-detik proklamasi, mengheningkan cipta, dan pengibaran sang saka merah putih.
Selama ini, tertimbun dalam gunungan masalah, membuat saya merasa bahwa sisa-sisa nasionalisme saya mulai luntur, mngkin yang masih tertinggal hanya setitik sisi ……..humanisme yang terkadang terusik ketika melihat satu dua hal yang saya temui dalam perjalanan ke kantor atau kembali ke kost2an.
Dulu..dikala saya masih hidup dengan budaya social nasionalis di kampus, mendengar lagu padamu negeri, » Continue Reading
“Keberanian timbul bukan karena tidak adanya rasa takut, tapi karena ada yang lebih penting yang harus kita hadapi”
Dialog di salah satu film ini menginspirasi saya sejak lama, dan saya menyakini betul apa yang terjadi jika kita mengamini kata2 tersebut.
Dulu..sejak saya kecil hingga saat awal saya di Jakarta setidaknya sampai awal tahun 2006, semua orang menilai saya orang yang sangat berani. Setidaknya dari yang mereka lihat, saya berani menjadi diri saya sendiri, saya berani mengungkapkan pendapat saya kepada siapapun meskipun dengan begitu jalan hidup yang saya lalui tidak menjadi ‘mulus2 saja’, saya juga berani » Continue Reading
Isra Mi’raj kali ini, membuat saya kembali memundurkan langkah kenangan saya ke puluhan tahun silam.
Dulu, saat saya masih terlingkupi dalam budaya religius di kampung halaman, tahun 1987 sampai dengan tahun 1997, setiap tahunnya, sebelum Isra Mi’raj, saya dalam 15 hari berturut2 mengikuti ngaji kitab rutin dmulai setelah magrib sapai dengan pukul setengah 9 malam.
Untuk ukuran gadis kecil sampai dengan menginjak remaja, saat itu adalah saat yang menyenangkan…bukan pada esensi mengajinya (saya yakin, anda sudah berpendapat yang sama)…tapi lebih kepada aktivitas-aktivitas ditempat selama menunggu giliran kita yang membacakan kitabnya. » Continue Reading
Cuti satu bulan penuh, menjadikan saya benar2 menikmati hidup dari sisi yang lain…selama ini saya selalu menikmati hidup dari sisi menikamti dunia senikmat2nya..dengan menyibukkan diri di pekerjaan, bertemu dengan berbagai karakter manusia, dll..dllnya..
Sempet melihat dan mendengar tentang pembubaran diskusi pemuda dan mahasiswa di bantul, yogyakarta kemaren??diskusi dengan peserta dari 19 daerah ini mengusung ‘tema’ diskusi ‘anti imperialisme’ ini dibubarkan oleh sekelompok masa yang menamakan diri mereka FAKI (Front AntiKomunisme Indonesia).
Masa FAKI ini tiba2 menyerbu ruangan diskusi yang berada di satu perkebunan di Bantul. Masa diskusi langsung berhamburan menyelamatkan diri dari amuk FAKI ini, dan tidak hanya membubarkan, masa FAKI juga menendang, memukul, dan mengamuk dengan sasaran masa diskusi yang mereka temui masih di dalam ruangan..bahkan aparat keamananpun tidak kuasa menghentikan aksi brutal mereka…
Melihat masa diskusi yang berusaha menyelamatkan diri dari amukan masa FAKI mengingatkan saya pada kenangan 8 tahun yang lalu, » Continue Reading
Cerita di buku laskar pelangi yang sudah saya lunasi hutang untuk membacanya membuat saya tersenyum. Cerita tersebut sama secara esensi dengan beberapa tahun ketika saya mengajar di sekolah rakyat, kali ini tidak di belitong, namun di keputih..desa dimana kampus ITS berdiri. Desa disebelah tempat pembuangan akhir seluruh sampah di seluruh kota Surabaya. » Continue Reading
